Kamis, 31 Mei 2018

Sejarah Bantar Gebang

Hal yang wajar, bahwa pada dasarnya setiap tempat, daerah dan peristiwa yang terjadi di dunia ini tidaklah timbul begitu saja, begitu pula halnya, dengan Kampung Bantar Gebang, yang  telah mengalami proses sejarah.

Jadi tidak hanya terkait, sebagai tempat pembuangan sampah saja, ternyata Bantar Gebang, mempunyai
Sejarah asal-usul hingga perubahan letak wilayah dan pergantian Pimpinan serta pemberian namanya.

Menurut sebuah sumber, berdasarkan keterangan dari salah seorang Penduduk asli “Sesepuh“ kampung Bantargebang ketika itu yang bernama “M.Asmat“
(Masyarakat Bantargebang mengenalnya dengan (Mu’alim Asmat) 

Dahulu pada sekitar abad ke 16 sebelum berdirinya Pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia, kampung ini (Sekarang Bantargebang) kedatangan seorang Laki-laki bernama Syarif Hidayat, 
seorang menantu Raja Fatah (Raja Demak), yang kala itu diutus untuk mengurus Pemerintahan dan menyebarkan Agama Islam ke daerah Cirebon, Tasikmalaya dan Banten, karena pada waktu itu daerah tersebut masyarakatnya masih memeluk Agama Budha. 

Konon pada suatu peristiwa ada seorang anak kecil yang menangis hebat setelah disunat pada suatu hajatan (Resepsi ketika itu), semua orang dibuat bingung oleh permintaan anak kecil tersebut. ketika semua orang kebingungan muncullah Syarif Hidayat yang memberitahu bahwa anak kecil meminta BAN (Sabuk) dan menyuruhnya mengambil disebuah pohon GEBANG yang ada di PELATARAN (halaman)

Dengan ketidakpercayaan semua orang yang ada ditempat itu, diambillah Ban tersebut dan diberikan kepada anak yang menangis itu, dan seketika itu juga anak itu menghentikan tangisnya.

Sejak itulah masyarakat kagum akan kearifan dan kesaktian Syarif Hidayat, hingga masyarakat menamakan kampung ini menjadi “ Kampung Bantar Gebang “ yang berasal dari kata : 

BAN                 : Yang artinya Sabuk atau Amben.
LATAR            : Artinya Tempat atau Pelataran. 
GEBANG        : Yaitu Pohon yang namanya Pohon Gebang.

Kemudian Syarif Hidayat menetap hingga Wafatnya, dikampung Bantar Gebang, dengan nama “ Mbah Kyai Wali Husein (Mbah Husein)

Desa Bantar Gebang dibentuk oleh Pemerintah pada tahun 1949, yang terdiri dari 2 (dua) kampung yaitu Kampung Bantar Gebang dan Kampung Cikiwul, yang masing-masing diperintah oleh seorang Kumico (Mandor)

Pada tahun 1942 setelah Belanda menyerah kepada Jepang, kampung Bantar Gebang diperintah oleh Bapak Saiten, dan Kampung Cikiwul diperintah oleh Bapak H. Patonah (H. Baja). 

Kemudian pada tahun 1950, kedua kampung tersebut disatukan, sebagai sebuah Desa, selanjutnya diadakan Pemilihan Kepala Desa, yang Calonnya pada waktu itu adalah :

Bapak Saiten, dari Kampung Bantargebang, dan Bapak H. Patonah (H. Baja) dari Kampung Cikiwul.

Pemilihan dimenangkan oleh Bapak Saiten, dan nama Desanya “Sukawayahna“, namun kemudian hasil dari rumusan tokoh Masyarakat diganti menjadi “ Layungsari “. 

Pertama kali Kantor Desa Layungsari terletak di Pangkalan II (Dua) Blok Icon, hingga kemudian pada Tahun 1954 dipindahkan ke Kampung Bantar Gebang hingga saat ini.

Bapak Saiten, memerintah Desa Layungsari sampai dengan tahun 1966, selanjutnya pada Tahun 1967 Desa Layungsari diperintah oleh Bapak Abdul Wahir, (Staf Koramil dari Kecamatan Setu) hingga tahun 1968.

Pada Tahun 1968, Desa Layungsari diperintah oleh Bapak M. Anim (H.M. Anim)sampai dengan tahun 1980. 

Kemudian pada Bulan April 1981 Desa Layungsari diperintah oleh Bapak H.M. Nurhasanuddin Karim,  

Pada Tanggal 1 April 1983 Desa Layungsari dipecah atau dimekarkan menjadi 2 (dua) Desa yaitu :

Desa Cikiwul, diperintah oleh M. Harun,dan Desa Bantar Gebang diperintah oleh H.M.Nurhasanuddin Karim sampai dengan pertengahan tahun 1998, dan pada tahun tersebut mengundurkan diri dari Jabatan Kepala Desa Bantar Gebang.
 
Pada tahun tersebut pula (1998) atas penunjukan Pemerintah Kecamatan Bantar Gebang, Desa Bantar Gebang dijabat oleh Cecep Suherlan (Sekretaris Kecamatan Bantar Gebang) sebagai Pjs Kepala Desa Bantargebang,
sampai dengan Agustus 2002. 
 
Dan berdasarkan Perda Kota Bekasi Nomor 02 Tahun 2002 Tentang Penetapan Kelurahan, maka seluruh desa yang ada di Kota Bekasi berubah status menjadi kelurahan, sehingga Desa Bantar Gebang pun berubah Statusnya menjadi Kelurahan Bantar Gebang. 

Pada 17 Agustus 2002, Kelurahan Bantargebang dipimpin oleh Drs.H.Abdillah Hamta,  
sampai dengan 30 Maret 2004, Kemudian 1 April 2004, dipimpin oleh Drs. Arkadihingga Maret 2006. Dari April 2006 Kelurahan Bantar Gebang dipimpin oleh Jaja Suharja, hingga 22 Desember 2008
Dan dari 23 Desember 2008, dipimpin Rondi Sahidin, S.IP, sampai dengan 25 September 2013 
Mulai 25 September 2013, dipimpin oleh Prabu BR, S.STP.

Selasa, 29 Mei 2018

Mini Niagara

Sahabat Bantar Gebang, sepertinya kita semua harus berbangga diri, dengan adanya wisata satu ini.

Namanya Curug Parigi, julukannya Mini Niagara Falls. Buat kebanyakan orang melihat Bekasi sebagai kota satelit. Tapi, sejak booming-nya Curug Parigi, Bekasi justru disanjung-sanjung karena dicap memiliki sebuah Mini Niagara, itu loh air terjun terkenal dari negeri Kanada. Nah, buat yang masih asing dan ingin banget ikut terjun ke dalam hype Curug Parigi, Pegipegi punya tujuh fakta mengenai tempat fenomenal ini. Simak yuk!

1. Debit Air Tergantung Musim
Sedikit berbeda dengan Niagara Falls, Curug Parigi punya keunikan tersendiri. Keindahan curug sangat ditentukan oleh debit air yang mengalir di sungai. Berhubung sedang musim kemarau, debit air tidak begitu banyak. Hanya sebagian kecil dari Curug Parigi yang dialiri air. Sedangkan pada musim hujan, seluruh sisi curug akan dialiri air, bahkan hingga rata permukaan, biar bisa dapat foto yang bagus, perhatikan musimnya biar nggak kecewa.

2. Oase diantara Hiruk Pikuk
Letaknya memang di Bekasi, jauh dan panas. Tapi, sekali kamu sampai ke Curug Parigi, semua kepenatan dijamin hilang deh. Ibaratnya oase indah di antara belantara pabrik dan kemacetan yang menjadi ciri khas kota Bekasi , kondisi Curug Parigi memiliki kontur tanah sedikit menanjak dan berbatu. Layaknya tebing ini membuat para penggiat alam juga ingin datang serta mencoba untuk mendaki puncak curugnya.

3. Beken di Media Sosial
Sejak mulai diseriusin Pemkot Bekasi untuk dijadikan tempat wisata, dua tahun kebelakang, Curug Parigi nggak pernah kehilangan fansnya loh. Berbagai netizen saling timpal share– Curug Parigi di sosmed, bak Instagram, Facebook maupun Twitter. Kebanyakan sih terpesona akan keindahannya, maklum mirip banget Air Terjun Niagara di Kanada. “Hallo Curug Parigi – Bantar Gebang Mempesona. Jangankan hari kerja, hari libur aja jalanan macet menuju kesini".

4. Membelah 2 Kabupaten
Ngomongin soal curug, nggak enak kalau nggak bawa-bawa letak geografisnya. Nah, kalau Niagara Falls ada di perbatasan antara 2 (dua) negara yaitu Kanada (masuk wilayah Ontario) dan Amerika Serikat (masuk wilayah New York), sedangkan Curug Parigi terletak di antara wilayah Kabupaten Bogor (Kecamatan Gunung Putri) dan Kota Bekasi (Kecamatan Bantar Gebang), yang keduanya masih dalam satu wilayah “negara” Jawa Barat. Yang penting kan masih sama-sama jadi “Pembatas”

5. Beda Lebar Sungai
Secara geografis, sebuah curug memisahkan dua belah sungai yang sama. Nah, jika Niagara Falls memisahkan sebuah sungai benar-benar lebar yang menghubungkan antara danau Ontario dan danau Erie, Curug Parigi sebaliknya. Aliran Sungai Cileungsi menjadi letak di mana Curug Parigi berada dan ukurannya sudah pasti lebih kecil lho meski keduanya dialiri sungai yang sama-sama punya status “Lebar”

6. Lokasi Film Suzanna
Buat penggemar berat mendiang aktris Indonesia, Suzanna pasti hafal dengan setting utama film Dia Sang Penakluk era 80-an. Yap, Curug Parigi ternyata menjadi alasan mengapa film tersebut sukses berat menghipnotis para penonton setianya. Nggak cuma Suzanna loh, beberapa FTV masa kini yang rajin tayang di SCTV pun nggak mau ketinggalan menggunakan Curug Parigi sebagai lokasi syutingnya. Nah, tertarik nggak buat datang?

7. Dekat TPU Bantar Gebang
Mau mampir ke Curug Parigi tapi nggak tahu jalannya? Tenang. Kalau kamu pernah lewat TPU Bantar Gebang di Bekasi, itu berarti kamu sudah dekat ke Mini Niagara Falls. Kamu hanya perlu melalui jalan Narogong Km 12,5 sebelum kemudian mengambil jalan Pangkalan lima (bekas pangkalan ruk pasir itu loh). Nah, ketemu pertigaan PT Hakapole, kamu langsung belok kanan saja. Biar santai, jalan dari Jakarta jam lima pagi biar bisa dapat air yang segar.

Itulah beberapa hal tentang Mini Niagara, yang dimiliki Kota Bekasi kita tercinta.
Mari kita jaga kelestarian Alam Bekasi

Salam